Menulis mengikat pengetahuan, mengabadikan kenangan, membagi kebahagiaan

Wednesday, September 9, 2020

PENYELUNDUP


Sampai saat ini, saya sudah tiga kali membeli mesin jahit. Mesin jahit pertama, dibeli sekitar tahun 2013, bentuknya mesin jahit mini. Waktu itu mesin jahit mini adalah barang baru, adapun barang yang sempat saya jahit berupa sarung bantal, keliman pakaian dan seringnya untuk perbaikan baju-baju yang jahitannya ambyar. Waktu itu belum kepikiran untuk membeli mesin jahit beneran, karena saya pikir pasti susah, saya kan tidak pernah belajar/kursus menjahit.


Melalui pertemanan di FB, saya mulai mengikuti beberapa grup tentang craft dan berkenalan dengan kerajinan berbasis ketrampilan menjahit. Dari sana saya baru tahu, ternyata ada mesin jahit portable yang mudah digunakan, user friendly lah istilahnya. Ada satu merk yang saya taksir, Karena harganya lumayan mahal bagi saya, maka saat itu saya berkomitmen uang tabungan di perkumpulan ibu-ibu yang saya ikuti, akan saya gunakan untuk membeli mesin jahit. Akhirnya sebuah mesin jahit portable merk Singer scholastic berhasil saya miliki. Sebenarnya ada bonus kursus pola dasar dari agen, tetapi karena harus ke Palembang, bonus tidak saya ambil. Sebagai gantinya saya bolak-balik nonton youtube dan mengunjungi berbagai website tentang fitur-fitur dan cara mengoperasikan mesin jahit serta proyek-proyek jahitan sederhana.


Mesin jahit Singer scholastic itu saya namai "Noni". Saat Noni dibeli, saya sedang hamil anak ke 3, beberapa perlengkapan bayi berhasil saya jahit sendiri. Kemudian saya mulai belajar membuat produk home decor dan tas. Lama-lama, selain bahan kain, saya tertarik membuat produk yang berbahan kulit sintetis, kemudian kulit asli, yang mana itu di luar kemampuan si Noni. Sehingga saya mulai menabung lagi untuk bisa membeli mesin jahit High Speed atau portable varian Heavy Duty. 


Singkat cerita, Sekarang saya sudah punya mesin Heavy Duty, masih keluaran dari fabrikan yang sama. Fisiknya lebih kokoh dan larinya lebih kencang, jahitannya juga lebih tedas untuk bahan yang tebal. Dia dinamai "Nino" kebalikan aja dari "Noni". Pilihan jatuh ke portable lagi, karena mempertimbangkan domisili yang berpindah-pindah. 


Kalau saya ingat-ingat lagi ternyata dulu saat masih kanak-kanak saya punya kenangan khusus tentang jahit-menjahit. Adalah Nenek sepupu saya, yang tinggal di sebelah rumah, seorang perempuan lansia yang tidak bisa diam. Sewaktu muda konon beliau adalah pekerja keras, dan ketika mulai menapakai usia senja tetap tidak bisa cuma duduk berpangku tangan. Sambil mengunyah sirih dan sesekali menyemburkan ludah berwarna merah, Mbok Siyam, begitulah kami memanggil Almarhumah, beliau biasa duduk di halaman sambil menyiangi daun kelapa, membuatnya jadi sapu lidi. Sering juga saya melihat beliau membawa koret, untuk membersihkan rumput di halaman. Kali lain beliau membuat bantal dan kasur isi kapuk randu yang diambil dari kebun. Proses pembuatan kasur dan bantal inilah kenangan saya tentang jahit menjahit yang membekas sampai dewasa.


Mbok Siyam, akan memanggil siapa saja yang ada di dekatnya termasuk saya untuk membantunya memasukkan benang ke jarum. Kalau benang di jarumnya sudah habis, beliau akan berteriak memanggil siapa saja yang dilihatnya untuk memasukkan benang lagi, begitu seterusnya. 

"Mreneo... ki selundupke benange"! begitulah perintahnya yang harus kami turuti.


Kadang-kadang sambil bermain saya memperhatikan caranya menjahit bantal-bantal itu. Berpuluh-puluh tahun kemudian saya baru tahu teknik menjahitnya itu disebut running sticht, back sticht, hidden sticht dan whip sticht yang termasuk kategori dasar-dasar teknik jahitan tangan . Saya pikir itulah awal mulanya kisah saya menjadi tukang penyelundup benang. Untung dulu saya nurut saja disuruh jadi penyelundup, rupanya ilmunya berguna sampai sekarang. Alhamdulillah.


#KLIP_JUNI_2020

#26_06_2020_06


*Foto: 

Patung Ibu Fatmawati sedang menjahit bendera pusaka Sang Merah Putih, di museum benteng Vredeburg Yogyakarta.

No comments:

Post a Comment

Catatan Delia

PERANGKAP HEBAT SOMA

Saya sedang berusaha merapikan koleksi buku bacaan anak yang saya bawa dari rumah Bandar Lampung ke rumah Cinta Manis. Tadinya buku-buku i...