Menulis mengikat pengetahuan, mengabadikan kenangan, membagi kebahagiaan

Tuesday, September 15, 2020

PENDEKAR TONGKAT EMAS (Resensi Film)



Judul: Pendekar Tongkat Emas
Tahun Produksi: 2014
Tanggal Tayang: 18 Desember 2014
Jenis Film: Laga/ Silat
Durasi: 112 menit
Negara Asal: Indonesia
Sutradara: Ifa Isfansyah
Penulis Naskah: Jujur Prananto, Mira Lesmana, Seno Gumira Ajidarma

Produser: Mira Lesmana, Riri Riza
Produksi: Miles Film
Pemain: Christine Hakim, Eva Celia, Reza Rahardian, Tara Basro, Aria Kusumah, Nicholas Saputra, Darius Sinathrya, Prisia Nasution, Slamet Raharjo


Film dibuka dengan adegan Cempaka (Christine Hakim) seorang pesilat hebat bergelar Pendekar Tongkat Emas, sedang berlatih, disambung dengan narasi tentang kehidupan seorang pendekar dan beberapa pertarungan. Cempaka kemudian memperkenalkan murid-murid sekaligus anak angkatnya, yaitu Mirah Dara (Eva Celia), Daya Gerhana (Tara Basro), dan Lembah Angin (Aria Kusumah). Kecuali Angin, ketiga anak angkat Cempaka adalah anak dari musuh-musuh yang dikalahkan dan terbunuh oleh Cempaka sendiri. Ia mengasuh mereka sebagai bentuk pertanggungjawaban karena telah membunuh orang tua mereka. Sedangkan Angin adalah anak yang dibuang dan ia temukan, kemudian juga diasuh sebagai anak sekaligus murid.

Hari itu, Cempaka mengutus Biru dan Gerhana menyaksikan pertandingan silat di Perguruan Sayap Merah dan berpesan agar mereka kembali pada malam hari, untuk menemuinya, bersama Dara dan Angin. Ternyata, Cempaka mewariskan senjata pusaka Tongkat Emas sekaligus jurus pamungkasnya. Alih-alih mewariskan pada Biru yang merupakan murid tertua dan terkuat, Cempaka justru memilih Dara. Ia akan pergi membawa Dara untuk berlatih jurus itu dan juga membawa angin dengan alasan untuk menjaga kesehatannya yang kian memburuk.

Keesokan harinya, di tengah perjalanan, Biru dan Gerhana menyergap guru dan adik seperguruan mereka. Biru tidak terima tongkat emas jatuh ke tangan orang lain. Cempaka berusaha melindungi Dara dan angin, hingga ia tewas di tangan muridnya sendiri. Meskipun awalnya Dara dan Angin berhasil melarikan diri, namun Biru dan Gerhana berhasil mengejar mereka. Dara dan Angin terjatuh ke dalam jurang setelah terkena pukulan Biru, namun mayat mereka dan tongkat emas tidak ditemukan di dasar jurang.

Biru dan Gerhana kembali ke Perguruan Sayap Merah, mereka menyebarkan fitnah bahwa Dara telah membunuh Cempaka dan kabur membawa tongkat emas. Para pendekar dikerahkan untuk memburu Dara. Biru dan Gerhana kemudian mengajukan diri menjadi murid Perguruan Sayap Merah. Sementara itu, Dara dan Angin rupanya diselamatkan oleh Elang (Nicholas Saputra), yang membawa mereka ke sebuah perkampungan. Ketika kondisi Dara dan Angin membaik dan mereka hendak melanjutkan perjalanan, Elang bertanya apakah mereka tahu kemana harus mencari Pendekar Naga Putih. Hal ini mengejutkan Dara dan Biru dan mempertanyakan identitas Elang, sebab pada malam Cempaka mewariskan tongkat emas, sang Guru berwasiat apabila ia meninggal sebelum sempat mengajarkan jurus pamungkas yaitu tongkat emas melingkar bumi, Dara dan Angin harus menemui Pendekar Naga Putih. Rupanya hanya ada dua orang yang menguasai jurus pamungkas tongkat emas yaitu Cempaka dan Naga Putih.

Ketika Elang sedang keluar dari perkampungan, para pendekar menyerbu untuk menangkap Dara. Angin mengorbankan dirinya agar Dara dapat selamat. Namun, keesokan harinya Dara kembali ke perkampungan dan mendapat pesan agar menyerahkan tongkat emas jika ingin membebaskan Angin. Dara terpaksa menukar tongkat emas dengan Angin. Tidak puas hanya mendapat tongkat emas, Biru dan Gerhana mengejar Dara dan Angin. Kali ini Angin mengorbankan nyawanya menyelamatkan Dara. Kembali ke Perguruan Sayap Merah, Gerhana dan Biru berhasil memperdaya pimpinan Perguruan sehingga Biru menjadi pewaris perguruan. Ia kemudian mengganti nama Perguruan Sayap Merah menjadi Perguruan Tongkat Emas. Perguruan-perguruan silat lain kemudian lebih memilih bergabung dengan Biru, daripada menentang yang beresiko dihancurkan.

Dara kembali bertemu dengan Elang, yang ternyata adalah anak dari Cempaka dan Pendekar Naga Putih (Darius Sinathrya). Elang juga menguasai jurus pamungkas tongkat emas. Bertekad untuk merebut kembali tongkat emas dan menuntut keadilan atas kematian guru dan adik seperguruannya, Dara pun dengan mantap memohon untuk menjadi murid Elang dan diizinkan berlatih jurus pamungkas yang ternyata harus dilakukan berpasangan. Berhasilkah Dara menjalankan misi itu? pembaca harus menonton sendiri kelanjutan film ini.

Kehadiran film silat berlatar jaman para pendekar merupakan angin segar di dunia perfilman Indonesia. Film ini menjadi semacam pengobat rindu bagi penggemar film silat, katakanlah generasi penikmat film Saur Sepuh, Tutur Tinular, Si Buta dari Goa Hantu dan sejenisnya, juga generasi yang sempat membaca novel sejenis Wiro Sableng atau Pendekar Rajawali Sakti. 
Pemilihan lokasi syuting di Sumba Timur yang eksotis juga menambahkan nilai tersendiri. Panorama padang rumput yang luas dan bukit-bukit hijau di bawah langit biru, seakan membawa penonton ke sebuah negri para peri. Sayangnya, meskipun judulnya Pendekar Tongkat Emas, namun permainan tongkat sebagai senjata pada film ini terkesan biasa saja, tidak ada adegan memainkan tongkat sambil beratraksi seperti para murid kuil shaolin misalnya. Selain itu dalam film ini juga masih ada adegan klise khas film silat, yaitu ketika sang tokoh utama jatuh ke jurang namun tetap selamat, karena ditangkap oleh sang penolong yang entah bagaimana kebetulan lewat di lokasi itu.

Tokoh Cempaka, meskipun hanya ada di bagian awal film, tetap menjadi tokoh sentral film ini, ia adalah gambaran seorang guru yang terpaksa 'menelantarkan' anaknya sendiri, demi sebuah tanggung jawab. Sekaligus sebuah penggambaran upaya membayar hutang nyawa yang gagal, meskipun Cempaka mengasuh anak-anak musuhnya, ternyata dendam tetap bersemayam dalam hati anak-anak itu. Film ini meraih penghargaan pada Festival Film Indonesia tahun 2015 untuk kategori pemeran pendukung wanita terbaik yang diraih oleh Christine Hakim dan pemeran anak-anak terbaik oleh Aria Kusumah, yang tampil menawan dengan kepala gundulnya.


Pematang Wangi 15 September 2020, Berkejaran dengan waktu.

#KLIP_SEPT_2020
#15_09_2020_01 

No comments:

Post a Comment

Catatan Delia

PERANGKAP HEBAT SOMA

Saya sedang berusaha merapikan koleksi buku bacaan anak yang saya bawa dari rumah Bandar Lampung ke rumah Cinta Manis. Tadinya buku-buku i...