Menulis mengikat pengetahuan, mengabadikan kenangan, membagi kebahagiaan

Wednesday, September 9, 2020

POHON DEWANDARU


Ceremai Jepang, begitu buah ini biasa disebut, ada juga yang menyebutnya ceremai belanda, padahal aslinya buah ini berasal dari Amerika Selatan.  Penampakan pohon dan daunnya mirip pacar kayu, perdu dengan daun-daun kecil berwarna tembaga saat masih muda dan perlahan-lahan menjadi hijau tua. Bentuk buahnya unik, bulat berusuk delapan mirip lampion kecil, kalau sudah merah pertanda buah sudah masak, kelihatan indah sekali bergelayut di ranting-rantingnya.  Rasa buah ini asam manis dengan sedikit rasa kelat dan sengir yang khas.


Konon,dalam bahasa Jawa, Dewandaru berarti pesan dari para dewa. Nama pohon ini muncul dalam  kisah pewayangan Mahabarata pada lakon "Wahyu Dewandaru", di mana Duryudana dan Arjuna bersaing untuk mendapatkan Dewandaru. Dalam kisah itu, ada juga sosok perempuan cantik yang berperan sebagai penggoda iman bernama Sri Sumilih.  Selain itu, beredar pula mitos tentang kesaktian si pohon Dewandaru ini terutama di kalangan penggemar klenik.


Pohon yang bernama ilmiah Eugenia uniflora ini dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional, terutama bagian daunnya karena mengandung senyawa flavonoid dan fenolik. Rebusan daun dapat dimanfaatkan untuk obat penurun panas dan pereda diare.


Terlepas dari mitos dan kisah di balik pohon Dewandaru, saran saya selama bulan ramadan ini terutama saat siang hari, jangan sering-sering memandang buahnya yang sudah masak. Warnanya yang merah menggoda bisa mengingatkan pada lembutnya buah ini ketika digigit, disusul rasa asam-manis yang langsung menyerbu, dan diakhiri dengan aftertaste kelat yang menempel di lidah.  Sebagai gantinya mari kita tilawah, memasak, menjahit, membaca atau tidur siang saja.  Selamat berpuasa, insyaAllah Ramadan ini penuh berkah.


#KLIPAPRIL2020

#26_04_2020_06

No comments:

Post a Comment

Catatan Delia

PERANGKAP HEBAT SOMA

Saya sedang berusaha merapikan koleksi buku bacaan anak yang saya bawa dari rumah Bandar Lampung ke rumah Cinta Manis. Tadinya buku-buku i...