Menulis mengikat pengetahuan, mengabadikan kenangan, membagi kebahagiaan

Sunday, September 13, 2020

DINDIN BADINDIN

...

Ikolah indang oi sungai garinggiang

Kami tarikan basamo-samo

Sambuiklah salam oi sambah mairiang

Pado dunsanak alek nan tibo

...



Suatu pagi, sesaat setelah mendengar bait lagu itu, tiba-tiba raut muka anak keduaku, si Teteh, berubah muram. Dengan nada kecewa ia berkata:

" ini kan, lagu itu kan, dindin badindin?"

"Iya, kenapa teh?" jawabku.

"Aku kan udah pernah latihan nari lagu ini, sama Bu Septa".

"Oh, iya ya. Teteh pernah ikut ekskul nari ya waktu itu" jawabku lagi.


Sebelum era Sekolah Dari Rumah (School From Home) gara-gara covid-19, si teteh ikut ekskul menari di sekolahnya. Rencananya saat acara parenting yang sekaligus pentas seni, teteh dan teman-temannya akan menampilkan tarian Dindin Bandindin. Latihan demi latihan dilakukan anak-anak sepulang sekolah pada jam ekskul masing-masing.


Kebijakan Sekolah Dari Rumah, membuat acara parenting juga ditiadakan. Bukan sekali-dua kali anak-anak di rumah mengeluh bosan, capek, kangen Bu guru, kangen teman-teman sekolah dan sebagainya tentang sekolahnya. Saya yakin keluhan seperti ini juga disampaikan anak-anak di rumah lain, di tempat lain bahkan di negara lain, yang sama-sama menerapkan kebijakan Sekolah Dari Rumah, demi menyelamatkan anak-anak dari wabah Korona.


Tentang lagu dan tari Dindin Badindin itu, ada kekecewaan yang lain yang dirasakan oleh si Teteh. Sebuah bentuk kekecewaan seakan-akan apa yang telah ia lakukan selama ini sia-sia, karena sudah capek-capek latihan tapi tidak jadi tampil. Anak ini memang suka dan menikmati ekskul tarinya, kadang-kadang kami yang ada di rumah dipaksa jadi penonton penampilannya menari, pura-pura sedang tampil di suatu acara. Susah payah kami menjelaskan padanya bahwa kita manusia hanya bisa berencana, tapi tetap Allah juga yang menentukan kenyataannya.


Menghadapi tahun ajaran baru, selain hiruk-pikuk mekanisme Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), hiruk-pikuk pula pertanyaan dan pendapat apakah anak-anak masih belajar di rumah atau ke sekolah seperti dulu. Kebijakan New Normal membuat para pencari nafkah (ayah dan atau ibu) terpaksa keluar rumah lagi meskipun wabah belum berakhir. Siapa yang akan menemani anak-anak ini belajar jika tetap sekolah dari rumah?. 

Di sisi lain banyak orang tua yang ketar-ketir melepas anak keluar rumah, terutama anak-anak yang masih usia Sekolah Dasar dan Usia Dini.  SOP belajar era New Normal memang sudah beredar, tapi keraguan dan kekhawatiran itu tetap ada, baik dari pihak orang tua, maupun guru-guru di sekolah.


Kalau saya pribadi, saya lebih mengutamakan keselamatan anak-anak, daripada takut ketinggalan pelajaran. Biarlah anak-anak belajar di rumah lebih lama, semampunya, semampu orang tua mendampinginya. Wabah ini benar-benar membuat kita semua belajar sabar, kuat, hemat, empati dan sebagainya secara nyata, bukan cuma teori seperti yang tertera di buku pelajaran anak-anak kita. Bukankah ini sebuah pelajaran yang sangat berharga?.


#KLIP_JUNI_2020

#29_06_2020_09

No comments:

Post a Comment

Catatan Delia

PERANGKAP HEBAT SOMA

Saya sedang berusaha merapikan koleksi buku bacaan anak yang saya bawa dari rumah Bandar Lampung ke rumah Cinta Manis. Tadinya buku-buku i...