Menulis mengikat pengetahuan, mengabadikan kenangan, membagi kebahagiaan
Showing posts with label Dongeng. Show all posts
Showing posts with label Dongeng. Show all posts

Sunday, March 21, 2021

PEREMPUAN YANG MEMASAK BATU

 



Saya adalah salah satu generasi yang lahir tahun '80-an, pernah mengalami masa-masa belum ada listrik dan nonton TV rame-rame di rumah tetangga serta rame-rame mengaji di mushola dari waktu magrib sampai waktu isya. Seingat saya listrik baru masuk ke desa kami sekitar tahun 1989 atau 1990 itu pun belum menjangkau seluruh desa. Ada kalanya mamak melarang kami nonton TV pada malam hari, sebagai gantinya mamak akan menceritakan sebuah dongeng untuk kami. Demikianlah pada malam-malam tanpa TV maka kami berdesakan di tempat tidur, mendengarkan dongeng mamak dengan seksama bersamaan dengan imajinasi yang mengembara mengikuti alur cerita. 


Dongeng-dongeng mamak selalu istimewa, kisah-kisahnya beraneka rupa, mulai dari bermacam-macam legenda tanah Jawa, Ramayana, Mahabarata, sampai pada dongeng-dongeng yang kelak bertahun-tahun kemudian kuketahui sebagai dongeng karya HC Andersen atau Grimm bersaudara. Sekalipun di TV akan ada acara Aneka Ria Safari atau Apresiasi Film Indonesia yang saat itu sangat kugemari dan hanya tayang sebulan sekali, jika mamak menawarkan dongeng maka kami akan lebih memilih dongeng saja. Pada malam-malam hujan ketika kami juga terpaksa tidak bisa keluar rumah, berselimut kain jarik sambil mendengarkan dongeng mamak adalah sebuah momen penuh kebahagiaan.

Ketika mamak akan mulai mendongeng biasanya beliau akan memberi pengantar yang menjelaskan apakah kisah ini murni dongeng saja atau benar-benar kisah nyata. Jika itu adalah sebuah kisah nyata mamak akan menyebutnya sebagai "cerita" bukan dongeng. 


Di antara begitu banyak cerita yang beliau tuturkan ada satu kisah yang paling istimewa yaitu tentang perempuan yang memasak batu. Kisahnya dimulai dengan seorang lelaki yang sedang berjalan pada malam hari di suatu tempat yang jauh. Pada malam yang sama di sebuah rumah ada anak-anak yang menangis kelaparan sedangkan ibunya tidak punya apa-apa untuk mereka makan. Anak-anak dari Ibu itu terus menangis, untuk menenangkan mereka maka Ibu itu menyalakan api dan menaruh periuk di atasnya. Ia katakan pada anak-anaknya agar mereka tidur dulu dan nanti akan dibangunkan ketika makanan sudah matang. Anak-anak itu akhirnya tertidur dan sang ibu terus memasak meskipun ia tahu masakannya tidak akan pernah matang karena yang ada dalam periuknya hanyalah air dan batu.


Lelaki yang sedang berjalan itu melihat api di kejauhan dan mendatanginya, terkejutlah ia ketika mengetahui ada orang yang sedang memasak batu. Usai mendengar kisah pilu sang ibu lelaki itu pun permisi lalu pergi. Malam itu juga si lelaki kembali lagi ke rumah perempuan yang memasak batu dengan membawa sesuatu. Ia datang sambil memanggul karung berisi bahan makanan dan sebuah jaminan bahwa keluarga itu tak akan lagi kelaparan. Berbunga-bunga hati ibu itu, berbunga-bunga pula hatiku. Mungkin,karena pada saat itu kami tinggal di rumah berdinding bambu dan tahu betul rasanya jadi orang miskin, rasa-rasanya saya bisa memahami keadaan keluarga perempuan yang memasak batu itu. Dari cerita itulah saya mengenal sebuah nama, Umar bin Khatab.


Kebiasaan mendongeng itu saya lanjutkan pada anak-anak, selain dongeng saya juga membacakan mereka buku cerita. Selain sebagai sarana menanamkan nilai-nilai kebaikan menceritakan dongeng atau membacakan buku juga bisa menjadi sarana mengenalkan karakter atau watak manusia yang bermacam-macam. Saya memang tidak membatasi bacaan anak-anak saya hanya pada cerita-cerita islami, mereka tetap boleh membaca cerita anak-anak, fabel, cerita rakyat, hingga dongeng manca negara sebab nilai-nilai kebaikan itu selalu universal dan cerita-cerita itu bisa membuka ruang diskusi tentang sesuatu yang tidak mereka pahami baik seputar nilai-nilai itu sendiri atau karakter tokohnya . Adapun untuk urusan aqidah, ibadah dan muamalah maka syariat islam tetap sebagai panduan.

Thursday, December 10, 2020

DONGENG PUTRI MIRELA

Raja Dodore dan Ratu Lalami sedang gundah, memikirkan anaknya yaitu putri Mirela yang sedang sakit. Selama ini Putri Mirela tinggal di luar istana, di sebuah rumah besar pedesaan di tepi danau. Sang Raja terpaksa memutuskan Putri Mirela kecil tinggal di sana, karena pada saat masih bayi ia selalu sakit-sakitan. Tabib istana menyarankan agar sang putri tinggal di tempat dengan udara yang bersih dan jauh dari keramaian, sehingga ke rumah tepi danau itulah sang putri tinggal bersama pengasuh dan perawatnya, sedangkan raja dan ratu tetap tinggal di istana untuk menjalankan tugas kerajaan. 


Di rumah itu putri senang sekali berjalan-jalan melihat panorama alam yang ada di sekelilingnya, beraneka tumbuhan dan hewan ada di sana. Putri suka melihat capung, kupu-kupu, katak dan terutama burung-burung yang mencari makan di danau itu. Setiap akhir pekan raja dan ratu selalu mengunjungi putri kesayangannya dan memastikan bahwa ia baik-baik saja.

Setelah sepuluh tahun berlalu, putri mirela tumbuh menjadi gadis kecil yang sehat, cerdas, periang dan tentu saja cantik jelita. Raja dan ratu memutuskan membawanya pulang ke istana agar mereka bisa berkumpul kembali sebagai keluarga dan mulai mendidik sang putri untuk melakukan tugas-tugas kerajaan sebagai calon pemimpin negri.

Saturday, October 31, 2020

A Little Bug And The Sunflower

 



"What a beautiful day" !, Said a little brown smelly bug. It sat on a leaf of a blooming sunflower. 

"What a bright and warm morning" said the sunflower.

"Tell me bug, why did you smell so bad when someone do bad things to you?"

"Well... in short i've found out that crying doesn't solve my problems, yet i have this smelly thing inside me and it keeps me save".

"Well done little bug, its a lovely morning isn't it? 

"It is..., by the way why did they called you Sunflower?"

" it needs a lot of time to tell the whole story"

"Don't worry, i have plenty of time, nobody bothers me, i have the smelly thing"

So they talked and talked and talked...happily ever after.


The End.


Bukit Kemuning, Lampung Utara 01 November 2018

Catatan Delia

CABE JAWA

Pagi itu adalah hari kedua kami liburan ke rumah Eyang. Saya bermaksud membuat sarapan namun beberapa bahan dapur sudah habis. Masih pukul...